My Img

My Img
BloGeR

Senin, 22 Juli 2013

Letak Nilai Kemanusiaan Seorang Manusia

Tujuan Diciptakannya Manusia
Sebagian manusia tidak menyadari bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan tanpa tujuan. Bahkan Allah Ta`ala menciptakan manusia dengan satu tujuan yakni untuk beribadah kepadaNya. Hal ini diberitakan oleh Allah Ta`ala didalam Al Qur`an Surat Adz Dzaariyaat 56: “Dan tidaklah Aku Ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah (mengabdi) kepada-Ku”.Oleh karena itu kita perlu menelusuri lebih kebelakang, untuk memahami untuk apa kita beribadah?
Memahami Makna Ibadah
Kita Beribadah sesungguhnya merupakan bentuk amalan syukur kita kepada Allah. Bila kita mengingat luasnya nikmat yang telah Allah limpahkan kepada kita, maka sungguh amat kecil pekerjaan ibadah yang Allah bebankan kepada kita dibandingkan luasnya nikmat Allah yang luar biasa tersebut. Maka bila amalan ibadah kita itu dalam rangka syukur kita kepada Allah, sungguh syukur kita itupun masih teramat sedikit jika dibandingkan terhadap limpahan nikmat-nikmat Allah tersebut. Allah berfirman di dalam surat Ibrahim 34: “ Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). “
Nikmat Allah tidak bisa kita hitung saking banyaknya, namun ibadah kita bisa kita hitung saking sedikitnya. Ibadah yang kita lakukan adalah dalam rangka syukur kita kepada Allah, bukan dalam rangka membalas nikmatnya. Sebab jangankan untuk membalas limpahan nikmat dari Allah Ta`ala tersebut, menghitungnya pun kita tidak akan mampu. Ini artinya kewajiban-kewajiban yang Allah bebankan kepada kita sesungguhnya merupakan Rahmat dari Allah Ta`ala. Seandainya Allah menuntut kita untuk membalas segala nikmat-Nya kepada kita, maka sungguh kita tidak akan pernah mampu untuk membalasnya. Tapi karena rahmat Allah-lah, beban kewajiban Allah itu menjadi demikian ringan dan entengnya bila kita bandingkan dengan besarnya nikmat-nikmat yang Allah limpahkan kepada kita tersebut. Dan karena rahmat Allah pula, Allah masih saja selalu memaafkan kita atas sekian banyak kelemahan kita dalam menunaikan kewajiban-kewajiban tersebut, padahal kewajiban Allah tersebut telah amat sedikit dibandingkan limpahan NikmatNya. Oleh sebab itu sesungguhnya Allah Ta`ala menuntut kepada kita tidak terlalu banyak jika dibanding fungsi kita hidup di dunia ini. Kita hanya dituntut untuk beribadah kepada Allah ta`ala dengan segenap kemampuan yang ada pada kita sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya.
Allah menfasilitasi Manusia
Ketika Allah memberitakan bahwa misi hidup kita adalah untuk beribadah kepadanya, maka Allah juga menyediakan fasilitas-fasilitas yang sangat lengkap untuk menunjang misi tersebut. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Al Baqarah 29: “Dia-lah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.”
Di dalam ayat diatas diberitakan bahwa Allah Ta`ala menciptakan segala yang ada di langit dan di bumi ini untuk kita sebagai fasilitas dalam menjalani kehidupan kita di dunia. Di dalam ayat ini pula Allah Ta`ala menggambarkan betapa besar kekuasaannya yang mampu menciptakan bukan hanya bumi seisinya, namun juga tujuh lapis langit yang berada di atas bumi, yang seolah-olah Allah ingin menyadarkan kita bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pihak yang mampu menciptakan itu semua, sehingga oleh sebab itu hanya Ialah satu-satunya pihak yang pantas disembah dan diibadahi dengan segala kekuasaan dan kebesaran yang Ia miliki tersebut.
Nilai Kemanusiaan Manusia
Setelah kita memahami makna dari ibadah dan segenap fasilitas yang telah Allah sediakan untuk kita, maka mestinya kita mulai menyadari untuk apa kita diciptakan oleh Allah Ta`ala. Pertanyaan ini telah dijawab oleh Allah Ta`ala dalam surat Azd dzariyat 56 di awal pembahasan kita di atas, yakni misi hidup kita adalah hanya untuk beribadah kepada Allah. Hal inilah yang harus kita tanamkan di dalam diri kita dan kita ingat-ingat terus bahwa mulai dari saat kita berusia baligh sampai kematian menjemput kita nanti, tugas kita adalah beribadah kepada Allah.
Oleh sebab itu besarnya nilai kemanusiaan dalam diri manusia itu ialah tergantung sampai sejauh mana ia menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah. Manusia itu akan semakin jauh dari nilai kemanusiannya ketika ia semakin lepas dari kewajibannya (meninggalkan) untuk beribadah kepada Allah. Sementara ketika semakin jauh manusia itu dari nilai kemanusiaannya berarti semakin tidak bernilai ia sebagai manusia.
Maka sungguh lucu kalau ada orang yang mengatakan bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar hidup dan tidak ada misi apa-apa. Maasyaallah, bagaimana mungkin Allah menciptakan manusia tanpa misi-apa-apa?, hanya misi sekedar hidup, seperti hidupnya sapi, kambing, kerbau dan sejenisnya yang hanya seputar makan, minum, buang air, kawin, tidur? subhanallah, inilah contoh ketika manusia itu telah jauh dari nilai kemanusiaannya, sehingga yang ia fikirkan dan lakukan dalam kehidupannya tidak jauh berbeda dengan rutinitas di dalam kehidupan hewan. Tidak ada nilai lebihnya, sebab ia meninggalkan misi hidup yang telah Allah bebankan kepadanya yang dengan misi itu membedakan antara manusia dengan hewan yakni beribadah kepada Allah. Allah mensinyalir orang-orang yang semacam ini di dalam surat Al A`raaf 179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
Allah menggambarkan adanya orang-orang yang telah diberikan fasilitas yang lengkap (seperti pendengaran, penglihatan dan hati) untuk mengenali dan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, namun ia tidak mau menggunakan fasilitas tersebut sebagaimana mestinya, maka Allah istilahkan orang-orang semacam ini dengan “seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat atau rendah dari binatang ternak”. Mengapa mereka lebih rendah dari binatang ternak? Karena binatang ternak, mereka masih bertasbih kepada Allah. Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ 44: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka, Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun “. Semua suara hewan itu bertasbih kepada Allah, sementara manusia yang bertingkah laku seperti hewan tadi, yakni tidak menjalankan misi hidupnya sebaaimana yang Allah kehendaki, mereka ini tidak bertasbih kepada Allah, sehingga manusia semacam ini lebih rendah derajatnya daripada hewan.
Kemudian orang yang mengerti misi hidupnya, ia akan senantiasa senang dan tenang dalam menghadapi segala macam problematika hidup didunia ini sebab ia mengerti bahwa segala problematika tersebut merupakan kemestian yang harus ia hadapi di dalam menjalankan misi hidup di dunia ini dan ia meyakini bahwa Allah akan memberikan ganjaran pahala bagi yang mampu menjalaninya dengan baik sesuai dengan yang dikehendaki Allah, sehingga ia senantiasa optimis di dalam menjalani hidup di dalam kondisi yang seperti apapun. Ia mengerti bahwa makan, minum, bekerja dan sebagainya itu ialah dalam rangka beribadah menjalankan perintah Allah Ta`ala. Adapun orang yang tidak mengerti misi hidupnya, untuk apa ia makan, minum, bekerja dan sebagainya? Sungguh ia akan merasa capek di dalam hidup di dunia ini karena ia tidak mengetahui tujuan yang hakiki dari semua kegiatan tersebut, sehingga kegiatan yang ia lakukan itu hanya sebatas rutinitas biasa saja tanpa ada harapan apapun dibalik itu. Pada saat bekerja disangkanya setelah ia kaya ia akan bahagia, namun setelah ia kaya ternyata masih muncul sekian banyak problem yang harus dihadapi, akhirnya iapun stress. Disangkanya ketika sudah mapan hidunya ia akan senang, namun ternyata setelah mapan, muncul lagi sekian banyak problem yang harus ia hadapi, sehingga iapun tertekan. Seolah-olah problem demi problem itu selalu menghantui hidupnya, tanpa mengetahui hakikat dari problem tersebut dan kemana ia harus bawa problem tersebut. Demikian terus menerus keadaannya akibat ketidakmengertiannya terhadap misi hidupnya di dunia, untuk apa ia bekerja, untuk apa ia beraktivitas dan sebagainya.
Maka semakin tinggi nilai ibadah seseorang itu, semakin tinggi pula nilai kemanusiaan dari orang tersebut. Dan semakin rendah nilai ibadah seseorang itu, semakin rendah dan jauh pula orang tersebut dari nilai kemanusiaannya (semakin tidak bernilai sebagai manusia). Dan bila kita telah mengerti bahwa misi hidup kita di dunia ini adalah untuk beribadah, maka tentunya perjuangan yang mesti kita lakukan adalah terus menerus memperbaiki kualitas ibadah kita, baik itu yang menyangkut hubungan kita dengan Allah, maupun hubungan kita dengan sesama makhluq Allah, sehingga kita betul-betul menjadi “manusia yang manusiawi”. Wallahu Al`lamu Bishshawaab.

sumber : http://samuderailmu.wordpress.com

Beberapa Larangan Dan Kebolehan Dalam Berpuasa

Berikut ini kami bawakan beberapa larangan yang harus dihindari oleh orang yang berpuasa, disamping tentunya larangan makan dan minum serta berhubungan seks dengan istri. Beberapa larangan itu ialah :

1. Berkata dusta dan berbuat dengan perbuatan yang tercela. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersabda :
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan omongan dusta dan tidak pula meninggalkan perbuatan tercela dalam puasanya, maka tidak ada keperluan bagi Allah untuk dia meninggalkan makanan dan minumannya”. (HR Bukhari hadits ke 1903)
2. Berbuat dengan perbuatan sia-sia dan berucap dengan ucapan keji. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam :
“Bukannya puasa itu hanya meninggalkan puasa dan minum. Hanyalah yang dinamakan puasa itu ialah mereka yang meninggalkan perbuatan sia-sia dan juga meninggalkan omongan keji. Maka bila ada yang mencerca engkau atau berbuat dengan perbuatan bodoh terhadapmu, maka katakanlah kepadanya : Sesungguhnya aku dalam keadaan puasa”. (HR. Hakim dalam Mustadraknya jilid halaman 430 – 431 dari Abi Hurairah)
Adapun kebolehan bagi orang yang berpuasa itu adalah sebagai berikut :
1. Bersiwak atau menggosok gigi baik dengan pasta gigi ataupun dengan batang siwak yang masih basah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya dibawah judul Babus Siwakir Rathbi Wal Yabisi Lis Shaaimi , beliau menyatakan : “Dan telah disebutkan dari Aamir bin Rabi’ah bahwa beliau menyatakan : Aku melihat Rasulallah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam bersiwak dalam keadaan berpuasa dan aku tidak menghitungnya atau mengetahui berapa kali beliau berbuat demikian”.
2. Bermesrahan dengan istri sampai keluar mani tetapi tidak sampai berhubungan seks, sebagaimana hal ini telah diberitakan oleh A’isyah Radhiyallahu anha : “Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam mencium istrinya dalam keadaan puasa dan beliau bermesrahan dengan istrinya dalam keadaan berpuasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan nafsu dari perkara yang terlarang terhadap orang yang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)
3. Berbekam, yaitu mengeluarkan darah kotor untuk kesehatan, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa aalihi wasallam sebagaimana telah diberitakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dan telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Bukhari dalam Shahihnya dalam hadits ke 1938.
4. Memasuki waktu subuh dalam keadaan junub, sebagaimana hal ini diberitakan oleh A’isyah dan Ummu Salamah yang keduanya adalah termasuk istri-istri Nabi shallallahu alaihi wa aalihi wasallam dan telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.
Demikian beberapa kebolehan bagi orang yang sedang berpuasa.

Disalin dari: http://alghuroba.org/beberapa.php

Senin, 15 Juli 2013

Sikap Hidup Sederhana

Membiasakan diri hidup sederhana, baik dalam pembicaraan, tingkah laku maupun dalam pembelanjaan adalah merupakan sikap hidup yang utama dan menjadi pangkal keselamatan. Hidup sederhana artinya hidup dalam ukuran atau kadar yang wajar, tidak melebihi dan tidak mengurangi. Sikap hidup seorang dalam menghadapi orang lain disebut underhanded adalah apabila dalam berbicara dan bertingkah laku ia tidak sombong, angkuh dan arogan, tidak menilai diri sendiri terlalu terlalu tinggi, sedang menilai orang lain rendah, remeh, dan tidak ada harganya sama sekali. Tetapi disamping itu, iapun tidak menilai diri sendiri terlalu rendah, terlalu remeh, terlalu hina, sehingga ia senantiasa dalam keadaan kecut, takut dan merasa diri sendiri tidak ada harganya dalam berhadapan dengan orang lain.
Agama Islam yang ajarannya penuh dengan tuntunan akhlaq mulia, mengajarkan agar manusia senantiasa bersikap wajar atau sederhana. Dan orang-orang yang mampu bersikap wajar atau sederhana digolongkan dalam hamba Allah yang baik, firman Allah dalam surat Al Furqan ayat 63-67:
63. Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. 
64. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
65. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal".
66. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Dan surat Luqman ayat 18, 19:


18 Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.


19 Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.




Dari ayat tersebut diatas, kiranya jelas bahwa ibadurrahman yaitu hamba Allah yang baik itu adalah orang yang mampu bersikap sederhana, tidak sombong dan tidak congkak, meskipun berhadapan dengan orang yang jahil. Bahkan ketika menghadapi orang yang tidak mengerti, mereka tidak bersikap kasar, angkuh, melainkan bersikap dan bertutur kata dengan bahasa yang lemah lembut penuh kedamaian. Sikap sederhana itu tetap menghiasi diri sebagai hamba Allah yang baik.

Dengan kekuasaan yang dipegangnya, seorang hamba Allah yang baik tidak berubah menjadi sombong atau angkuh dan tidak pula menjadi congkak dan lupa daratan. Melainkan dengan kekuasaan yang dipegangnya itu menjadikan hatinya semakin lunak dan lembut serta senantiasa bersikap kasih sayang kepada orang lain, terutama yang berada dalam keadaan lemah. Demikian pula dengan kekayaan yang dilimpahkan Allah kepadanya, seorang hamba Allah yang baik, tidak menjadikan dirinya besar kepala dan bersikap tidak semena-mena kepada kaum fakir miskin.

Dari kandungan ayat diatas, juga dapat diambil kesimpulan bahwa ibadurrahman atau hamba Allah yang baik, yang senantiasa bersikap sederhana dalam hidunya, adalah orang-orang yang dalam membelanjakan hartanya tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, melainkan diantara keduanya, tidak berlebih-lebihan atau boros dan tidak kikir. Berlebih-lebihan dengan mengumbar kemauan hawa nafsu dan melupakan kewajiban untuk mengeluarkan zakat, padahal semakin banyak menuruti kebutuhan hawa nafsu maka semakin banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan semakin banyak kebutuhan yang di perlukan maka akan semakin jauh untuk berempati sosial, dengan mengeluarkan zakat dari harta yang dimilikinya. Dirinya akan terjebak pada kehidupan yang serba mewah.

Orang yang hidup mewah adalah orang yang mempunyai sikap hidup ananiyah atau individualistis, yaitu orang yang hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri dan melupakan kepentingan orang lain. Orang yang bermewah-mewahan dalam hidupnya sekaligus adalah pemboros. Sebab orang yang berlebih-lebihan itu biasanya membelanjakan hartanya untuk hal-hal yang kurang perlu.

Sikap hidup berlebih-lebihan atau bermewah-mewah itu jelas merupakan sikap hidup yang tidak hanya akan merugikan terhadap kepentingan masyarakat, tetapi juga akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri. Sebab sikap hidup berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum, jelas secara makro akan berakibat meningkatnya jumlah bahan makanan yang diperlukan. Apabila persediaan jumlah bahan makanan sangat terbatas, ini tentu saja akan mengakibatkan timbulnya berbagai macam kesulitan.
Sikap hidup berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan, acapkali juga menjerumuskan seseorang pada perbuatan jahad dan tercela yang tidak diridhai oleh Alah dan dibenci oleh masyarakat. Orang yang terbiasa hidup mewah, kadang-kadang tidak memikirkan darimana ia harus memperoleh uang untuk membiayai nafsu mewahnya itu. Tidak jarang seseorang sampai nekat berbat korupsi, pungli dan perbuatan tercela lainnya, hanya karena didorong oleh keinginan hidup mewah.
Dalam hubungan ini Rasululah Muhammad SAW sangat menaruh perhatian terhadap umatnya, terutama yang dikaruniai memperoleh pekerjaan yang berhubungan dengan publik. Apabila rasul mengangkat diantara sahabatnya untuk memegang suatau jabatan tertentu yang berhubungan dengan kepentingan publik, senantiasa beliau berpesan agar hiduplah yang sederhana. Menurut wajarnya saja, jangan berlebih-lebihan dan jangan bermewah-mewah. Pada suatu hari ketika beliau mengangkat Mu’az bin Jabal menjadi duta istimewa di negeri Yaman, beliau berpesan: Jauhilah kemewahan itu, bahwasannya hamba Allah yang setia, bukanlah orang-orang yang hidup dalam kondisi mewah (HR. Ahmad). Dari sabda nabi tersebut jelaslah, bahwa sikap hidup bermewah-mewah itu sering menjerumuskan seseorang kelembah kehinaan berupa perbuatan khianat dan jahat. Lebih-lebih untuk melakukan perbuatan itupun ada pada tangannya.
Agar menjadi orang yang selamat dan diselamatkan maka sederhanalah dalam bersikap, tidak berlebih-lebihan namun juga tidak bakhil. Memang sulit, namun bukan berarti sulit tidak bisa dilakukan, asal mau berusaha pasti bisa, semoga Allah SWT senantiasa membimbing orang-orang yang mau berupaya dalam melaksanakan ketaatan, amin. - See more at: http://www.untajiaffan.com/2013/03/sikap-hidup-sederhana.html#sthash.un5DSThS.dpuf